Rahasia Kerja Orang Jepang (JEPANG VS DUNIA)

Rahasia Kerja Orang Jepang (JEPANG VS DUNIA)

RAHASIA KERJA ORANG JEPANG

Seri: Budaya Kerja Orang Jepang.
Oleh: Gagat sukmono, B.Eng.

Perang dunia ke-2 menyisakan kepiluan mendalam bagi masyarakat Jepang. Saat kita berjalan mengelilingi Tokyo yang megah, merasakan teknologi mutakhir yang dekat dengan keseharian dan perasaan nyaman yang saat ini tersaji seakan bisa menghapus jejak pilu yang pernah mereka rasakan.
Waktu yang menghapusnya, tapi mungkin tidak sama dengan waktu yang kita jalani. Kepiluan dan kesengsaraan pasca perang mereka tebus dengan kerja keras, hingga akhirnya saat-saat seperti sekarang dan perasaan nyaman ini bisa terwujud.
Tayangan dokumentasi seri Project X yang ditayangkan di NHK bercerita banyak tentang kebangkitan Jepang. Bagaimana dedikasi manusia-manusia terpelajar dan memiliki skill yang masih hidup pasca perang berkumpul membuat Shinkansen. Menantang raksasa komputer Amerika IBM dengan menciptakan komputer yang lebih kecil, menciptakan televisi, mesin fotokopi, mobil nasional SUBARU dan berderet produk teknologi mentereng yang mengangkat Jepang hingga ke level saat ini.
Yang mereka tantang adalah DUNIA yang saat itu didominasi oleh Amerika. Pengembangan teknologi yang mereka lakukan selalu mengacu pada perkembangan teknologi di Amerika. Mereka kadang menjadikan produk teknologi amerika sebagai acuan awal langkah mereka untuk membuat produk yang lebih baik dari yang sudah ada. Banyak pelajar dikirim ke Amerika untuk mempelajari teknologi kemudian dikembangkan di Jepang.

Apakah kebangkitan mereka bertujuan untuk menjadi Negara no.1 dunia? Ternyata bukan. Mobil nasional Subaru dikembangkan oleh segelintir pemuda dari perusahaan kecil yang dulunya adalah pembuat pesawat tempur, tujuannya sangat sederhana. Mereka melihat bahwa saat itu hanya orang-orang kaya raya yang bisa membeli mobil, sedangkan petani dan masyarakat biasa tidak bisa merasakannya. Dorongan inilah yang memotivasi mereka untuk menciptakan mobil kecil yang murah sehingga masyarakat mampu membelinya. Sebut saja contoh lain adalah Shinkansen, kereta cepat yang mereka buat dengan tujuan mempersingkat waktu tempuh Osaka-Tokyo sehingga mobilisasi antara kedua kota besar ini jauh lebih cepat dan tentu berpengaruh besar pada geliat ekonomi di kedua kota tersebut dan juga kota-kota yang dilewati.
Dorongan sosial memperbaiki tatanan masyarakatlah yang memicu perkembangan teknologi di Jepang.

BAGAIMANA PRODUK JEPANG MERAJAI DUNIA

Desas desus bakal runtuhnya imperium teknologi Jepang sempat santer belakangan ini. Dalam artikel-artikel yang banyak tersebar di media sosial menyebut-nyebut bahwa Jepang kalah cepat dengan perusahaan-perusahan Tiongkok dan Korea selatan, yang tidak dipungkiri mulai merebut pasar-pasar elektronik, dan itu terlihat juga di pasar tanah air. Menurunnya pasar PANASONIC, SANYO, SONY yang kalah dengan produk-produk SAMSUNG atau produk Tiongkok seperti XIAOMI dan yang lainnya diusung sebagai bukti. Bahkan dalam buku The Way of Samsung yang ditulis oleh Lee (kaichou) menyebut bahwa mereka mengadopsi manajemen gabungan antara manajemen Jepang yang memprioritaskan kualitas dan manajemen Amerika yang terkenal cepat, klaim mereka bahwa metode gabungan ini adalah faktor keberhasilan mereka merajai pasar gadget.

Tapi, tunggu dulu. Imperium teknologi yang sudah dibangun Jepang dengan disiplin tinggi, semangat inovasi yang mengalir dalam darah dan menempatkan kualitas sebagai prioritas paling utama, tidak semudah itu runtuh. Pasar otomotif dan suku cadang, produk transportasi high quality, property dan banyak segmen produk lainnya masih merajai dunia. Bahkan produk jasa dan kuliner Jepang juga sudah menjadi satu market yang berekspansi ke banyak penjuru dunia. Produk mereka masih dicari. Nama “Jepang” sudah jadi brand untuk produk dengan kualitas tinggi. Inovasi belum hilang dari darah mereka, untuk itu mempelajari budaya kerja mereka akan jadi pelajaran berharga bagi kita, untuk bergerak menjadi bangsa yang dahsyat.

Budaya Kerja yang Mengantarkan Mereka Merajai Dunia
Kecepatan dan keakuratan (kualitas) menjadi 2 hal yang harus dimiliki oleh setiap organisasi baik itu organisasi profit maupun non-profit, agar bisa bertahan dan berkesinambungan di tengah perputaran informasi dan teknologi yang sangat cepat.
Kecepatan punya peran yang tidak bisa diabaikan untuk menyeimbangkan dengan perubahan cepat yang terus bergulir. Sedangkan, keakuratan atau kualitas tetap harus dijaga agar tetap bertahan.
Namun aktualnya, 2 hal tersebut tidak semerta-merta dapat terwujud begitu saja. Setiap faktor penggerak organisasi harus saling bersinergi dan memiliki kapasitas untuk dapat mendukung terwujudnya gerak organisasi yang cepat dan akurat. Apapun bentuk organisasi yang ada, pondasi utama yang menggerakannya adalah Manusia. Jika ditelusuri ke titik awal maka kita dapat menemui 2 faktor utama pembentuk Manusia yang berkualitas, yaitu, Pengetahuan (knowledge) dan Keahlian (skill) atau sering juga diistilahkan dengan KnowHow.
Salah satu pengetahuan yang penting untuk dimiliki oleh tiap elemen organisasi (karyawan, direksi, stakeholder) adalah tentang Budaya Kerja Organisasi Maju dan membiasakan budaya kerja tersebut sebagai bentuk penguasaan (skill). Organisasi maju yang saya maksud adalah organisasi/perusahaan yang mampu menghasilkan barang/servis berkualitas tinggi dengan kecepatan tinggi pula. Untuk itu, sebagai perwakilan budaya kerja organisasi maju, maka tidaklah salah kalau kita menilik atau lebih tepatnya menganalisa tentang budaya kerja masyarakat Jepang.
Apa sebenarnya pola pikir dasar dan budaya kerja masyarakat Jepang sehingga mereka bisa menghasilkan produk berkualitas tinggi dan dengan kecepatan yang tinggi pula? Saya akan menyajikan dari satu sudut yang berbeda, mari kita simak..

1. Membukukan “Otak” dan “Otot”

Poin ini adalah salah satu basic thinking yang dimiliki orang Jepang (organisasi di Jepang) dan benar-benar dilakukan dengan maksimal. Seiring waktu dan pergantian generasi, orang yang memiliki pengetahuan dan keahlian akan menua dan berhenti. Apabila “otak”(baca : pengetahuan) dan “otot” (baca : keahlian) mereka tidak rajin dibukukan dalam bentuk manual, materi, foto, video dan bentuk rekam lainnya maka berhentinya mereka jadi awal putusnya pengetahuan dan knowledge berharga yang dimiliki organisasi. Dengan begitu pondasi perlahan merapuh dan berimbas pada melemahnya kekuatan organisasi secara keseluruhan.
Pelatihan mereka terhadap karyawan baru dalam membuat laporan sangat “keras”. Begitulah yang saya lihat ketika bekerja di salah satu perusahaan besar Jepang di perfektur Kumamoto, jepang bagian selatan. Bagaimana seorang supervisor bertanggung jawab penuh mendidik juniornya termasuk dalam membuat laporan. Kerap kali saya melihat kertas laporan yang telah direvisi semua berwarna merah karena dikoreksi. Sang junior terpaksa berkali-kali memperbaikinya. Itu bukan satu bentuk bullying, tetapi memang dalam rangka mendidik. Silakan lihat ke lemari-lemari dokumen mereka. Laporan kejadian, perbaikan, reparasi dan sebagainya tersimpan rapi, lengkap dan sangat detil. Kita tidak akan bingung mencarinya, dan setiap dokumen level manfaatnya tinggi, terlihat tidak dibuat sembarangan.

2. Manualisasi (transfer ilmu)

Tidak hanya pengalaman senior yang mereka bukukan, tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan akan mereka bukukan secara maksimal hingga hal yang kecil. Misalnya, bagaimana cara melakukan meeting yang benar, bagaimana cara menulis notulen yang efektif dan poin penting minimal yang harus ditulis. Terutama untuk hal yang basic.

3. Tettei shita Kyouiku (Training secara maksimal)

Training tidak selalu menyebut kegiatan transfer ilmu yang diberi subjek Training ini dan training itu. Namun kegiatan training sesungguhnya yang dilakukan oleh pelaku organisasi di Jepang adalah menyertakan junior (orang-orang yang baru masuk atau belum berpengalaman) bersama seniornya untuk ikut banyak pekerjaan. Memperlihatkan dan menjelaskan pada mereka secara detil kemudian memberi kesempatan pada junior untuk melakukan pekerjaan sendiri dengan di bawah pengawasan hingga akhirnya junior ini memiliki skill dan bisa bekerja mandiri. Senior memiliki kemampuan mengajarkan secara bertahap, mampu menjelaskan secara detil, mengajarkan trik-trik khusus dalam bekerja dan sudah tentu mengajarkan manual yang telah mereka buat sebelumnya.

4. Pola pikir yang mendarah daging “What`s the next step?” and “What should I do?”

Ini pola pikir yang membuat kerja mereka cepat, mereka mengenyahkan sikap saling menyalahkan dan saling lempar tanggung jawab. Pada hakikatnya mereka memahami bahwa masalah wajar saja muncul di tengah kerja, namun masalah tersebut dianalisa bukan untuk mencari siapa yang bersalah tetapi dicari jalan keluar bersama. Setiap bagian memperjelas tanggung jawabnya masing-masing sehingga mereka jelas apa yang harus dikerjakan, ketika terbentur masalah dengan segera dikomunikasikan dengan atasan atau pihak-pihak terkait. Pola pikir ini dibekali dengan kemampuan bertanya yang baik, dan pekerja yang melakukan pekerjaan harus merekam pekerjaannya dalam bentuk data, dan yang lainnya secara detil dan akurat.

5. Apa dasarnya?

Mereka akan malu mengajukan pendapat, menjawab sesuatu, melaporkan sesuatu yang terkait pekerjaan kalau tidak ada dasar yang valid (terpercaya). Baik itu data hasil pengukuran, materi yang detil dan akurat maupun pengalaman kerja orang-orang yang kompeten.
Kata “coba saja dulu” yang banyak terlontar dari pekerja Indonesia sulit ditemui di Jepang. Mencoba tanpa dasar dan asumsi yang kuat adalah awal dari kesia-siaan. Selalu ada hal yang bisa terlebih dahulu dipersiapkan, digali lebih dalam agar apa yang akan kita lakukan selalu didasari oleh pemikiran yang kuat dan runut.

6. Planning yang hebat

Sejak awal mereka dilatih untuk membuat rencana yang matang sebelum bekerja. Bagi mereka gagal menyusun rencana sama saja dengan merencanakan kegagalan. Tidak hanya pekerjaan besar, pekerjaan-pekerjaan kecilpun mereka dibiasakan untuk merencanakannya terlebih dahulu. Mereka memprediksikan lebih dulu kemungkinan-kemungkinan kendala yang akan dihadapi sehingga mereka juga mempersiapkan beberapa langkah alternatif ketika jalan pertama yang ditempuh tidak berjalan.

7. Hubungan Senior & Junior yang kokoh

Jepang salah satu Negara yang kental dengan senioritas. Yang muda patuh pada yang tua. Sistem ini sudah menjadi sistem keseluruhan masyarakat Jepang, yang senior wajib mengajari juniornya dan berhak dihormati. Junior wajib menghormati dan mengikuti dan berhak untuk diajari. Budaya ini ketika dibawa ke negeri kita saat ini mungkin akan bias cukup besar. Cenderung dibawa ke arah negatif. Bukannya mengarah pada pengajaran, pelatihan dari senior ke junior, alih-alih dibawa ke arah bullying.

8. Communication skill yang terlatih sejak dini

Bagi yang pernah belajar di jepang atau setidaknya tinggal di Jepang dalam waktu yang agak lama akan tahu bahwa sejak pendidikan dini mereka diajarkan (dari sekolah dan lingkungan) bagaimana cara berkomunikasi yang baik, dimulai dari cara berbahasa berdasar lawan bicaranya, cara meminta tolong yang baik, cara menyampaikan sesuatu yang tidak menyinggung orang lain, dsb. Dengan kemampuan komunikasi ini sangat meminimalisir perselisihan saat bekerja dengan orang lain. Yang juga berefek positif terwujudnya kerjasama yang baik dan lingkungan kerja yang ringan untuk berkomunikasi.

9. Make it clear (perjelas)

Melakukan rapat tanpa hasil adalah bukti tidak profesional dan tidak berkualitas. Orang Jepang termasuk yang sangat paham akan hal itu. Mereka tidak akan membiarkan rapat selesai tanpa kejelasan. Mereka tidak membiarkan yang hadir mengira-ngira jalan cerita berikutnya sendiri. Ciri khas mereka di ruang-ruang rapat adalah menuliskan elemen dasar 5W1H. Terhadap permasalahan yang sedang dihadapi harus diperjelas kembali, apa yang akan dilakukan, siapa yang bertanggung jawab melakukannya, di mana kegiatan akan dilakukan, mengapa harus dilakukan, kapan harus dilakukan dan yang terakhir bagaimana cara melakukannya.
Hal tersebut adalah syarat minimal saat mereka melakukan rapat atau rencana pengerjaan suatu proyek. Dengan begitu semua pihak bisa dengan jelas memahami peran masing-masing.

10. Profesionalisme yang tinggi

Orang jepang tergolong orang yang secara rata-rata memiliki personal space yang cukup besar. Dalam bergaul mereka jarang melakukan skin ship, atau berdekatan dengan jarak mungkin lebih dari minimal 1.2 meter. Apalagi ketika berdekatan dengan orang baru, orang yang tidak disukai mereka sebagian besar memilih untuk mengambil jarak.
Tetapi, beda bahasan ketika mereka masuk di dunia kerja. Emosi pribadi selalu dijadikan urutan terakhir mereka. Personal space yang mereka miliki harus menyesuaikan pada aturan dan profesionalisme kerja. Mereka tidak membawa urusan pribadi di kantor, jarang ditemui orang Jepang yang curhat masalah pribadi di kantor, kalau boleh dibilang itu juga salah satu hal tabu bagi pekerja di sana.

Artikel Berikutnya : Sisi Negatif Gaya Kerja Orang Jepang.
Ditunggu yaa…

Tinggalkan Balasan

Halo...! apa yg dapat kami bantu?

Silahkan hubungi Admin yang paling dekat dengan lokasi Anda

Admin Untuk Wilayah Kayuringin

Admin Kayuringin

Online

Admin Untuk wilayah Karawang

Admin Karawang

Online

Admin untuk Admin Cikarang

Admin Cikarang

Online

Admin untuk wilayah Harapan Indah

Admin Harapan Indah

Online

Admin untuk wilayah Tambun

Admin Tambun

Online

Admin Wilayah Grand galaxy

Admin Grand galaxy

Online

Admin Sekolah Ke Jepang

Admin Sekolah Ke Jepang

Online

Admin Kayuringin

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Karawang

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Cikarang

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Harapan Indah

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Tambun

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Grand galaxy

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Sekolah Ke Jepang

Hi, What can i do for you? 00.00

FREE until 30 october

Free registration fee and free books fee for regular weekend and weekdays class