Cerita Kelam Tokyo (Tokyo Dark Side)

Cerita Kelam Tokyo (Tokyo Dark Side)

TOKYO Dark Side
Oleh: Gagat sukmono

Tokyo dengan gemerlapnya, kedisiplinannya, kebersihannya dan juga kepraktisannya memang membuat takjub dan menginspirasi banyak hal. Namun, inspirasi tidaklah selalu dari hal-hal positif. Sisi gelap kadang justru banyak menginspirasi kita untuk mengambil pelajaran sehingga kita bisa berbuat lebih baik lagi. Sesuatu yang dilihat secara seimbang bisa membuat kita lebih bijak dalam menilai segala sesuatunya. Karena itu, saya juga ingin mengupas sedikit tentang sisi gelap (dark side) dari kota Tokyo secara khusus dan negara Jepang secara umum.

■Tingginya Angka Bunuh Diri

Jika beberapa bulan menetap di Tokyo dan sering bepergian menggunakan kereta api, bisa jadi anda juga akan mengalami hal seperti ini, kereta tiba-tiba berhenti hingga beberapa lama dan setelah itu ada announcement yang meminta kita menunggu sesaat karena ada kecelakaan (Jinshin Jiko). Awalnya saya sedikit bertanya-tanya, kenapa orang Jepang seperti biasa saja mendengar pemberitahuan ini. Padahal kalau di negara kita, pasti sudah heboh dan penasaran ingin melihat kalau ada kecelakaan. Usut punya usut ke teman sekolah, ternyata jinshin jiko di sini maksudnya adalah bunuh diri, orang menjatuhkan dirinya ke rel kereta api sesaat sebelum kereta melintas. Dan hal seperti ini terlihat sudah biasa bagi manusia di kota metropolitan ini.

Jika melihat data di tahun 2013, ternyata memang tidak mengherankan kalau mereka terlihat sudah biasa, jumlah orang yang bunuh diri di tahun itu mencapai 27.800 orang. Atau kalau kita ambil rata-rata perhari, jumlah orang yang bunuh diri di Jepang mencapai 76 Orang. Sungguh angka yang fantastis. Lebih tepatnya, sungguh angka yang sangat memprihatinkan, apalagi diketahui juga dari laporan Departemen Kesejahteraan dan Tenaga Kerja Jepang, bahwa jumlah orang yang mencoba bunuh diri diperkirakan mencapai 10x lipat dari jumlah angka bunuh diri.

Di saat kita menjadikan Jepang sebagai dream destination, memuji-muji kemajuan teknologinya, mencontohnya dari berbagai sudut kehidupan. Namun ternyata, ada sisi gelap yang perlu kita bahas juga lebih dalam agar cara pandang kita lebih bijak. Agar punya sedikit parameter, sejauh mana kita boleh membaur, sejauh mana kita boleh mengadopsi cara hidup di negeri Jepang ini.

Orang umum yang mainstream selalu bilang “Ambil yang baik-baiknya saja, tinggalkan yang buruk”. Pernyataan yang tidak salah, namun masih terdengar terlalu gamblang. Terkadang kita perlu mendefinisikan lebih detil lagi, yang baik-baik itu yang seperti apa, yang buruk yang seperti apa, terutama ketika hidup di Tokyo. Yang dikhawatirkan adalah, ketika kita tidak menyadari kalau ternyata sudah terjebak di dalam dark culture Tokyo. Maaf kalau terlalu hiperbolis menyebutnya sebagai dark culture, karena bagi saya bunuh diri adalah satu tindakan yang gelap dan sangat memprihatinkan. Apapun itu alasannya.

Banyak pakar Jepang maupun dari luar Jepang yang menganalisa tentang gejala bunuh diri yang tinggi ini.
Dari hasil investigasi dan analisa yang cukup dalam, mereka sepakat bahwa penyebab utama bunuh diri di Jepang adalah karena DEPRESI akut. Depresi ini penyebabnya bermacam-macam, dari hasil laporan kepolisian Jepang pada tahun 2010, dari 70% yang diketahui penyebabnya, penyebab utama adalah KESEHATAN, yang kedua EKONOMI, ketiga masalah KELUARGA dan yang keempat adalah permasalahan di TEMPAT KERJA.

Ah, saya tidak ingin membahas seperti layaknya laporan penelitian. Bahkan tidak perlu seperti itupun yang cukup lama menetap di Tokyo akan segera paham, kenapa angka rasio bunuh diri di Jepang begitu tinggi. Kita bisa melihat dan menilai dari cara hidup mereka dan juga budaya-budaya sosial yang berkembang di masyarakat.

■No Second Chance Culture

Semenjak runtuhnya ekonomi gelembung di Tahun 1980-an, masyarakat sosial Jepang berubah drastis, sejak saat itu mereka lebih result oriented (fokus pada hasil). Dari situ nanti ada istilah kachigumi (the winner) dan makegumi (the loser). Kehidupan yang keras dan sangat rawan stress.
Dalam dunia professional orang lain tidak akan menilai seberapa kerasnya anda berusaha, yang dilihat hanyalah kesempurnaan hasil. Ketika anda gagal memenuhi target, maka anda adalah the loser. Sekeliling anda akan melihat dengan sinis, mereka akan mencibir, apalagi ketika kegagalan yang anda lakukan juga berimbas negatif pada kepentingan orang lain. Maka sekeliling anda akan memandang seolah-olah mereka terus menyalahkan anda dan meminta pertanggung jawaban kepada Anda.
Kegagalan yang anda lakukan meruntuhkan total kepercayaan pada diri anda. The worst thing bagi manusia adalah ketika kita dianggap sebagai kachi no nai nin-gen (manusia tidak bernilai). Sungguh kejam. Culture kejam ini menggiring orang-orang yang pernah gagal atau orang-orang yang lemah ke dalam lembah depresi yang membahayakan. Lama di kondisi itu akan membuat sakit fisik dan psikis pun bermunculan. Ketika sudah di titik ini banyak orang Jepang yang tidak kuat dan memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya.

■Tidak ingin merepotkan orang lain (tannin ni meiwaku o kakenai)

Di kehidupan yang sedang berjalan normal, pola pikir dan sikap seperti ini merupakan satu hal yang sangat bagus dan saya sendiri banyak mengadopsi pola pikir yang satu ini. Namun ternyata pola pikir ini ketika tidak ada rem-nya akan menjadi satu faktor penyebab depresi.
Kenapa bisa?
Ini banyak terjadi pada orang tua di atas 45 tahun yang terserang suatu penyakit. Yang mungkin harus terbaring untuk dirawat. Pridenya membuat dia malu kalau harus jadi pesakitan, apalagi merasa sudah tidak produktif lagi dan harus merepotkan dan menyusahkan banyak orang. Pemikiran-pemikiran ini menjerumuskannya dalam depresi berat yang akhirnya memicu emosi untuk melakukan bunuh diri.
Terjebak dalam pemikiran betapa waktu adalah penting, betapa tenaga manusia sangatlah penting, betapa semua itu perlu dinilai dengan uang, adalah pemikiran yang membuat semakin berat ketika merepotkan orang lain. Pemikiran yang sekilas terdengar bagus, tetapi di sisi lain, banyak mengungkap bahwa di kota-kota besar Jepang rasa manusia untuk saling membantu dan berkorban demi orang lain secara ikhlas sudah banyak hilang.

■Individual Life

Kombinasi antara tekanan hidup atau tekanan kerja dan hukum sosial yang berat terasa semakin berat dirasakan saat hidup serba sendiri. Kehidupan individualis yang merupakan produk dari kehidupan metropolitan sulit dihindari orang Jepang, dengan berbagai alasan seperti tidak ingin merepotkan orang lain, tidak mau mengganggu privasi orang lain, tidak ingin menambah masalah pergaulan dengan orang lain dan berbagai alasan lain yang banyak membuat mereka memilih hidup menyendiri di kota besar. Waktu mereka habiskan di perusahaan, selesai tengah malam kemudian mereka pulang dan banyak yang hidup sendiri.

Ini menimbulkan masalah psikologis yang begitu berat, ketika mereka menghadapi masalah berat dan pelik, mereka tidak tahu harus berlari kemana. Ketika masih mempunyai uang mungkin mereka akan menghabiskan untuk bersenang-senang, mabuk-mabukan atau berjudi. Tapi ketika yang mereka hadapi adalah masalah ekonomi, dalam waktu singkat mereka tidak tahu harus bagaimana menghadapi permasalahan mereka. Mereka merasa bahwa mereka hidup sendiri, mereka yang merasakannya dan tidak ada yang mau mengerti. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup.

Persaingan bisnis yang keras, kerja yang berat dan seakan tanpa akhir, aturan sosial yang terlalu ketat adalah beberapa pemicu-pemicu besar timbulnya depresi bagi orang Jepang, sementara tindakan untuk menetralisirnya tidak cukup. Dunia, uang, pekerjaan dan benda yang berwujud adalah tuhan-tuhan mereka, selebihnya mereka tidak terlalu menghiraukan apalagi meyakininya. Larinya ke hiburan malam, minum alkohol atau judi, pelarian yang mungkin bisa menenangkan pikiran sesaat, namun sama sekali tidak bisa menenangkan hati. Hal inilah yang membuat banyak dari mereka begitu rapuh ketika diterpa masalah. Dan pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya sendiri di dunia.

■Kerja nomor satu, keluarga nomor sekian

Kereta api pagi sudah berjubel dengan manusia, kereta api malam penuh dengan orang pulang kerja yang mabuk, bau bir menyengat, wajah merah dan berjalan sempoyongan. Bahkan sabtu dan minggu juga masih terlihat banyak orang yang berangkat ke kantor. Suasana itu sering saya amati ketika masih menetap di Tokyo, keseharian yang tidak menarik menurut saya pribadi.
Sebenarnya tidak hanya di dunia kerja, mahasiswa-mahasiswa yang melakukan penelitian di kampus juga sama saja, bahkan tidur di kampus sudah biasa. Kebiasaan seperti ini jadi hal yang biasa bagi mereka.
Terlebih ketika saya benar-benar pernah mengalami bekerja di perusahaan di Jepang kurang lebih selama 10 bulan, saya jadi benar-benar tahu bahwa bekerja lembur hingga tengah malam bukanlah sesuatu yang mengherankan. Ketika saya pulang jam normal jam 5, jadi merasa aneh…he..he..
Sabtu dan minggu juga mereka sering masuk kerja. Kalaupun minggu tidak kerja, banyak dari mereka yang menemani customer bermain golf atau mungkin bermain golf bersama teman-temannya. Lalu kapan waktu untuk keluarga? Bagi mereka keluarga menjadi prioritas yang nomor…ke sekian.
Sudah bisa Anda bayangkan, ketika keluarga menjadi nomor sekian. Istri dan anak-anak yang berada di rumah banyak yang tidak diperhatikan dalam jangka waktu yang cukup lama kemudian memicu pertengkaran-pertengkaran ditambah lagi permasalahan ekonomi, seperti korban PHK (pemutusan hubungan kerja) atau keluarga dari pengusaha yang perusahaannya bangkrut.

Rentetan masalah dalam keluarga memicu terjadinya depresi yang panjang, yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan bunuh diri.
Selain karena kebutuhan sehingga mereka harus banyak lembur untuk mendapatkan penghasilan lebih, sebagian dari mereka juga melakukan lembur yang berlebih karena keterpaksaan. Tidak bisa menolak perintah dari atasan, tidak ingin dianggap gagal dalam bekerja, tidak ingin dibilang malas mempersiapkan pekerjaan, sehingga mau tidak mau mereka mengerjakan pekerjaannya selalu melebihi jam kerja normal.

Awal tahun 2017, media Jepang kembali dihebohkan dengan berita meninggalnya staf salah satu perusahaan besar NHK dan juga DENTSU karena “Karoushi” (terlalu lelah bekerja). Kebetulan saja berita seperti itu terangkat kembali, padahal itu hanya 1 contoh dari sekian banyak yang tidak terlihat.

Hal inipun seharusnya menjadi bahan introspeksi diri tiap manusia di manapun berada, tidak hanya Jepang. Bisa jadi di negara kita Indonesia, ketika yang dikejar terus adalah kebendaan, maka tidak tertutup kemungkinan akan terbawa dalam “kegelapan”:-D

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Halo...! apa yg dapat kami bantu?

Silahkan hubungi Admin yang paling dekat dengan lokasi Anda

Admin Untuk Wilayah Kayuringin

Admin Kayuringin

Online

Admin Untuk wilayah Karawang

Admin Karawang

Online

Admin untuk Admin Cikarang

Admin Cikarang

Online

Admin untuk wilayah Harapan Indah

Admin Harapan Indah

Online

Admin untuk wilayah Tambun

Admin Tambun

Online

Admin Wilayah Grand galaxy

Admin Grand galaxy

Online

Admin Sekolah Ke Jepang

Admin Sekolah Ke Jepang

Online

Admin Kayuringin

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Karawang

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Cikarang

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Harapan Indah

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Tambun

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Grand galaxy

Hi, What can i do for you? 00.00

Admin Sekolah Ke Jepang

Hi, What can i do for you? 00.00

OPEN REGISTRATION

Segera amankan seat sekarang juga,
SEAT TERBATAS